Top 5 This Week

Related Posts

Tekan Ancaman Resistensi Antimikroba, Pemkab Tegal “Gaspol” Perkuat Kompetensi 175 Apoteker

Tegal, Delik.sbs – Pemerintah Kabupaten Tegal terus memperkuat langkah strategis dalam menekan risiko Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antimikroba yang menjadi salah satu tantangan serius dalam dunia kesehatan.

Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal bersama organisasi profesi, penguatan kapasitas tenaga kefarmasian dilakukan secara masif agar pelayanan obat di tingkat apotek semakin bermutu, aman, sekaligus berorientasi pada keselamatan masyarakat.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Seminar dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelayanan Kefarmasian Tahun 2026 dengan tema “Strategi Pengendalian Resistensi Antimikroba dan Peningkatan Mutu Pelayanan Kefarmasian di Apotek.”

Kegiatan ini digagas Dinkes Kabupaten Tegal bersinergi dengan Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kabupaten Tegal. Sebanyak 175 apoteker penanggung jawab apotek dari berbagai wilayah di Kabupaten Tegal turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Edy Sucipto, menjelaskan bahwa forum tersebut secara khusus menyasar pengelola fasilitas pelayanan kefarmasian di tingkat tapak.

Menurutnya, penguatan kompetensi apoteker menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kefarmasian yang tepat, aman, dan sesuai standar, sekaligus mendukung upaya pengendalian resistensi antimikroba.

Bimtek tidak hanya menyajikan materi teoritis, tetapi juga menghadirkan pemateri dari berbagai bidang strategis. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperluas wawasan peserta mengenai tantangan pelayanan kefarmasian sekaligus memperkuat penerapan standar profesional di lapangan.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Tegal menegaskan komitmennya untuk membangun sistem pelayanan kefarmasian yang semakin berkualitas. Para apoteker diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam penggunaan obat secara rasional serta memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat.

Penguatan kapasitas tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap AMR. Penggunaan antimikroba yang tidak tepat berpotensi mendorong munculnya mikroorganisme yang semakin sulit ditangani.

Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan penggunaan obat tetap tepat sasaran sekaligus menjaga efektivitas pengobatan bagi generasi mendatang.

Pemkab Tegal pun menempatkan peningkatan mutu pelayanan kefarmasian bukan sekadar sebagai agenda teknis, tetapi sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Popular Articles