LUMAJANG, JAWA TIMUR — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menjadi perhatian. Di tengah erupsi yang masih berlangsung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengingatkan masyarakat agar tidak merespons aktivitas gunung api dengan kepanikan, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti ketentuan keselamatan yang berlaku.
Gunung Semeru saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik belum dapat dianggap sebagai situasi biasa yang boleh diabaikan, meskipun kegiatan masyarakat di sejumlah wilayah masih berlangsung normal.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto sebelumnya menyampaikan bahwa erupsi Semeru merupakan aktivitas yang memang dapat terjadi secara berkala. Hingga laporan terakhir yang disampaikan BPBD, aktivitas vulkanik tersebut belum menimbulkan gangguan signifikan terhadap kegiatan masyarakat.
Namun, pesan penting dari kondisi tersebut bukan berarti warga boleh mengabaikan risiko.
Justru, ketenangan diperlukan agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi resmi, bukan berdasarkan video, pesan berantai, atau kabar yang belum terverifikasi.
Ketenangan Harus Diikuti Kewaspadaan
Data aktivitas Gunung Semeru pada 9 September 2026 menunjukkan aktivitas kegempaan masih terjadi. Laporan yang dihimpun dari MAGMA Indonesia mencatat puluhan gempa letusan/erupsi, sementara status gunung tetap berada pada Level III atau Siaga.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat perlu memahami bahwa tidak panik berbeda dengan tidak waspada.
Warga yang tinggal atau beraktivitas di kawasan sekitar aliran sungai yang berhulu di Semeru harus memperhatikan potensi bahaya sekunder, terutama lahar dan material vulkanik.
Rekomendasi keselamatan juga menempatkan kawasan Besuk Kobokan sebagai salah satu wilayah yang harus dihindari. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak yang telah ditetapkan serta menjauhi sempadan sungai karena terdapat potensi perluasan awan panas maupun aliran lahar.
Jangan Jadikan Erupsi Sebagai Tontonan
Erupsi gunung api di era media sosial juga menghadirkan persoalan baru. Aktivitas vulkanik mudah menjadi tontonan melalui rekaman video dan siaran langsung.
Padahal, mendekati kawasan berbahaya hanya untuk mendapatkan gambar atau video dapat meningkatkan risiko terhadap keselamatan diri sendiri maupun petugas yang nantinya harus melakukan evakuasi.
Karena itu, imbauan BPBD seharusnya dibaca sebagai dua pesan sekaligus: masyarakat tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh lengah.
Informasi mengenai perubahan aktivitas Gunung Semeru sebaiknya diperoleh dari lembaga resmi seperti PVMBG, BPBD, pemerintah daerah, serta kanal kebencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi masyarakat Lumajang dan Malang yang tinggal di sekitar kawasan rawan, kesiapsiagaan juga perlu dilakukan dengan mengetahui jalur evakuasi, lokasi aman, serta potensi ancaman yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Dengan demikian, menghadapi erupsi Semeru bukan soal memilih antara tenang atau waspada. Keduanya harus berjalan bersamaan.
Ketenangan membuat masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan, sedangkan kewaspadaan memastikan warga tetap siap apabila kondisi gunung berubah.
