Tegal, Delik.sbs – Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terus meluas. Sedikitnya 16 desa yang tersebar di tujuh kecamatan kini terdampak kekeringan. Kondisi tersebut membuat 27.128 jiwa dari 7.303 kepala keluarga (KK) membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal terus bergerak menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 10.00 WIB, distribusi air bersih telah memasuki hari ke-51.
Selama 51 hari penanganan, PMI Kabupaten Tegal tercatat telah menyalurkan sekitar 428 ribu liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Jumlah tersebut setara dengan 107 tangki air yang didistribusikan secara bertahap berdasarkan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah.
Ketua PMI Kabupaten Tegal Iman Sisworo, melalui Kepala Markas PMI Kabupaten Tegal Sunarto, mengatakan bahwa distribusi bantuan air bersih masih terus dilakukan mengingat kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak hingga kini masih cukup tinggi.
“Distribusi air bersih masih terus kami lakukan karena kebutuhan masyarakat masih tinggi. Bantuan disalurkan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak,” ujar Sunarto.
Menurutnya, musim kemarau yang berlangsung cukup panjang memberikan dampak terhadap ketersediaan sumber air masyarakat.
Karena itu, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penting untuk membantu warga memenuhi kebutuhan dasar, terutama untuk keperluan konsumsi, memasak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
PMI Kabupaten Tegal memastikan upaya pendistribusian air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.
Penyaluran diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah keterbatasan sumber air.
Kondisi kekeringan yang meluas ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat diperlukan agar penanganan krisis air bersih dapat berjalan cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan.