Top 5 This Week

Related Posts

Lapas Wahai Awali September dengan Kegiatan Keagamaan, Warga Binaan Khusyuk Yasinan dan Kebaktian

Delik.sbs-Wahai/ Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai awali bulan September dengan terus memperkuat pembinaan spiritual bagi Warga Binaan. Suasana khidmat menyelimuti masjid Lapas saat Warga Binaan bersama petugas berkumpul untuk membacakan Yasin dan zikir bersama pada Kamis (3/9) malam.

Kegiatan rutin ini diselenggarakan sebagai pembinaan mental dan spiritual agar Warga Binaan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di bawah pengawasan petugas pengamanan, jalannya ibadah berlangsung dengan tertib dan khusyuk dari awal hingga lantunan doa penutup dipanjatkan.

Usman Bakri selaku Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai menegaskan pihak Lapas akan terus berkomitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam program pembinaan harian. “Momentum awal bulan ini dimanfaatkan untuk memohon kelancaran, keselamatan, dan ketenangan batin bagi seluruh Warga Binaan selama menjalani masa pidana di Lapas,” jelasnya.

Salah satu Warga Binaan berinisial AR, mengaku dulu jarang sekali menyentuh sajadah. “Di dalam sini, saya justru menemukan ketenangan yang luar biasa. Ibadah rutin ini membuat saya sadar bahwa masa lalu bisa kelam, tapi masa depan masih bisa saya perbaiki. Saya ingin pulang nanti sebagai orang yang baru,” ungkapnya.

Selain itu, Warga Binaan Kristiani juga jalani ibadah virtual pada Jumat (4/9) di Gereja Ebenhaezer. Salah satu Warga Binaan berinisial JN mengungkapkan kebaktian dan persekutuan doa di Lapas adalah kekuatan sehari-hari. “Kami tidak merasa dibuang, justru di sini kami dibimbing untuk mendengar firman Tuhan lagi. Hubungan kami dengan teman-teman Muslim juga sangat erat. Kami saling mendukung untuk sama-sama berubah menjadi lebih baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktur Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi langkah proaktif Lapas Wahai dengan memperkuat pembinaan kerohanian melalui yasinan, zikir bersama, dan kebaktian. Langkah ini diharapkan membentuk karakter Warga Binaan yang beriman, bertakwa, dan memiliki kesadaran moral tinggi.

”Pembinaan kerohanian yang konsisten dinilai sebagai fondasi utama agar Warga Binaan memiliki ketenangan batin, penyesalan yang tulus atas kesalahan masa lalu, dan motivasi kuat untuk memperbaiki diri selama menjalani masa pidana. Ketika Warga Binaan bebas nanti, mereka diharapkan tidak hanya siap secara mental, tetapi juga memiliki kepribadian yang diterima dengan baik oleh masyarakat,” harap Ricky.

Kesinambungan program pembinaan kerohanian di Lapas Wahai membuktikan masa pidana bukanlah halangan untuk terus berbenah, melainkan momentum terbaik untuk merajut kembali masa depan yang lebih bermartabat. Lapas Wahai akan terus berinovasi dalam menghadirkan program-program pembinaan humanis, edukatif, dan berdampak nyata bagi pemulihan jiwa raga Warga Binaan.

Popular Articles