MALANG, DELIK SBS— Kawasan Kayutangan tidak hanya menawarkan jejak sejarah dan bangunan heritage. Di balik hiruk-pikuk kawasan wisata tersebut, geliat kuliner terus menghadirkan cara baru menikmati makanan, salah satunya melalui sajian yang dimasak atau disajikan menggunakan claypot, periuk berbahan tanah liat.
Konsep ini memberikan pengalaman berbeda dari hidangan nasi pada umumnya. Makanan tidak sekadar menjadi santapan, tetapi juga hadir bersama sensasi panas, aroma, dan proses penyajian yang menjadi bagian dari pengalaman kuliner.
Salah satu yang menawarkan konsep tersebut adalah Kedai Kayoe Bakar di kawasan Pertokoan Kayutangan, Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 6E, Kauman, Kota Malang. Kedai ini dikenal dengan berbagai pilihan menu berbasis nasi, mi, kwetiau, hingga bubur yang disajikan dalam claypot.
Penggunaan claypot bukan sekadar pemanis tampilan. Wadah tanah liat mampu mempertahankan suhu makanan lebih lama sehingga hidangan tetap hangat ketika sampai di meja. Sejumlah menu bahkan dimasak langsung menggunakan claypot, memberikan karakter berbeda pada aroma dan rasa makanan.
Pilihan menunya pun tidak berhenti pada satu jenis nasi. Nasi goreng claypot, nasi telur kocok, mi claypot, soun atau kwetiau claypot hingga bubur claypot menjadi bagian dari variasi yang ditawarkan. Tersedia pula pilihan saus dengan karakter rasa berbeda, mulai dari laksa, mala, kungpao, asam manis hingga lada hitam.
Fenomena claypot di Malang sendiri bukan hal yang sepenuhnya baru. Sejumlah pelaku usaha kuliner telah mengadaptasi teknik memasak tersebut dengan sentuhan masing-masing. Bahkan, konsep claypot juga digunakan untuk menyajikan nasi kebuli yang memadukan karakter rempah Timur Tengah dengan teknik penyajian yang populer dalam tradisi kuliner Melayu.
Bagi kawasan Kayutangan, keberadaan kuliner dengan konsep berbeda seperti ini menunjukkan bahwa wisata heritage tidak harus berhenti pada bangunan lama dan spot foto. Kuliner dapat menjadi bagian penting dari pengalaman wisata, sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menawarkan identitas dan inovasi masing-masing.
Namun, daya tarik sebuah sajian tentu tidak hanya ditentukan oleh bentuk wadahnya. Cita rasa, kualitas bahan, kebersihan, pelayanan, harga, serta konsistensi pengolahan tetap menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah konsep kuliner mampu bertahan dalam persaingan.
Claypot pada akhirnya hanyalah medium. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana panas, aroma, tekstur dan racikan bumbu tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman makan yang memang layak diingat.
Di tengah berkembangnya Kayutangan sebagai salah satu tujuan wisata Kota Malang, inovasi kuliner semacam ini memberi warna tersendiri. Bukan lagi sekadar mencari nasi untuk mengenyangkan perut, tetapi mencari pengalaman berbeda dari sepiring makanan yang datang mengepul di atas meja.
